Metode Analisis Media


Metode framing (pembingkaian) adalah suatu metode untuk melihat cara bercerita (story telling) media atas peristiwa. Cara bercerita itu tergambar pada “cara melihat” terhadap realitas yang dijadikan berita. “Cara melihat” ini berpengaruh pada hasil akhir dari konstruksi realitas. Analisis framing adalah analisis yang dipakai untuk melihat bagaimana media mengonstruksikan realitas. Analisis framing juga dipakai untuk melihat bagaimana peristiwa dipahami dan dibingkai oleh media.
Berikut 4 metode analisis media :
1.     Analisis Isi
·         Pengertian
Analisis isi (content analysis) adalah penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media massa. Analisis ini biasanya digunakan pada penelitian kualitatif. Analisis isi secara umum diartikan sebagai metode yang meliputi semua analisis menganai isi teks, tetapi di sisi lain analisis isi juga digunakan untuk mendeskripsikan pendekatan analisis yang khusus. Analisis isi dapat digunakan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi, baik surat kabar, berita radio, iklan televisi maupun semua bahan-bahan dokumentasi yang lain. Hampir semua disiplin ilmu sosial dapat menggunakan analisis isi sebagai teknik/metode penelitian. 
Definisi lain dari analisis isi yang sering digunakan adalah: research technique for the objective, systematic and quantitative description of the manifest content of communication
·         Asumsi Dasar
Content analysis adalah cara mudah dan efektif untuk mengukur suatu perubahan. Asumsi dasar content analysis sedemikian sederhananya sehingga terkadang penelitian semacam ini terlewatkan karena si peneliti mencari cara lebih canggih dalam mencari solusi. Pada kenyataannya, para peneliti tersebut tidak mengambil manfaat dari suatu metode yang dapat diandalkan, instrumen yang dapat dikerjakan di rumah dan tidak memakan biaya besar
·         Ragam Analisis beserta Tokoh
Harold D. Lasswell
Pelopor analisis isi adalah Harold D. Lasswell, yang memelopori teknik symbol coding, yaitu mencatat lambang atau pesan secara sistematis, kemudian diberi interpretasi.
Setidaknya dapat diidentifikasi tiga jenis penelitian komunikasi yang menggunakan analisis isi. Ketiganya dapat dijelaskan dengan teori 5 unsur komunikasi yang dibuat oleh Harold D. Lasswell, yaitu who, says what, to whom, in what channel, with what effect. Ketiga jenis penelitian tersebut dapat memuat satu atau lebih unsur “pertanyaan teoretik” Lasswell tersebut.
Holsti
Menurut Holsti, metode analisis isi adalah suatu teknik untuk mengambil kesimpulan dengan mengidentifikasi berbagai karakteristik khusus suatu pesan secara objektif, sistematis, dan generalis.
Objektif berarti menurut aturan atau prosedur yang apabila dilaksanakan oleh orang (peneliti) lain dapat menghasilkan kesimpulan yang serupa. Sistematis artinya penetapan isi atau kategori dilakukan menurut aturan yang diterapkan secara konsisten, meliputi penjaminan seleksi dan pengkodingan data agar tidak bias. Generalis artinya penemuan harus memiliki referensi teoritis. Informasi yang didapat dari analisis isi dapat dihubungkan dengan atribut lain dari dokumen dan mempunyai relevansi teoritis yang tinggi
Denis McQuail
Denis McQuail membuat dikotomi dalam riset analisis isi media yang terdiri dari dua tipe, yaitu: message content analysis dan structural analysis of texts. Analisis isi yang termasuk di dalam message content analysis memiliki karakter sebagai berikut: quantitative, fragmentary, systematic, generalizing, extensive, manifest meaning, dan objective. Sementara itu, structural analysis of texts, dimana semiotika termasuk di dalamnya, memiliki karakter sebagai berikut: qualitative, holistic, selective, illustrative, specific, latent meaning, dan relative to reader.
Janis, Barelson, Lindzey dan Aronson
Deskripsi yang diberikan para ahli sejak Janis (1949), Berelson (1952) sampai Lindzey dan Aronson (1968) yang dikutip Albert Widjaya dalam desertasinya (1982) tentang Content Analysis menampilkan tiga syarat, yaitu: objektivitas, dengan menggunakan prosedur serta aturan ilmiah; generalitas, dari setiap penemuan studi mempunyai relevansi teoritis tertentu; dan sistematis, seluruh proses penelitian sistematis dalam kategorisasi data.
Max Weber dan Benyamin Franklin
Karya-karya besar dalam penelitian kualitatif tentang penggunaan analisis isi seperti yang dilakukan oleh Max Weber dalam bukunya The proestant ethic dan the spirit of capitalism. Dalam karya ini Max Weber berusaha menentukan apa yang di maknakan dengan “Spirit of capitalism” terutapa dari apa yang di tulis oleh Benyamin Franklik. Namun, Weber lebih banyak bertitik tolak dari kasus-kasus konkret yang bertujuan untuk menciptakan tipe-tipe ideal (ideal types) dari sekadar menghasilkan suatu deskripsi objektif dan sistematis dari tulisan Franklin. Jadi, dalam menyifatkan “Protestan ethic dan spirit of capitalism”, maka Weber mengkaji isi tulisan Franklin secara ideal. Hal ini dilakukan dengan sengaja karena Weber tidak percaya bahwa realitas historis adalah seperti yang dideskripsikan dalam tipe-tipe ideal yang diciptakan, seperti ascetism, rational organization of labour, dan lainnya
Kesimpulan
Analisis isi adalah salah satu jenis metode penelitian yang bersifat objektif, sistematis, dan kuantitatif serta berkait dengan isi manifest komunikasi. Dalam analisis isi, yang dibedah adalah pesan atau “message”nya. Studi analisis isi ini menekankan pada bahasa dan menghendaki adanya netralitas. Akan tetapi, sedikit kelemahan dari analisis isi ini adalah sangat berpengaruh pada subjektivitas peneliti. Namun, suatu hal yang membuat metode analisis isi ini patut menjadi pilihan karena sangat efisien dari segi biaya, dan peneliti dapat menggunakan satu media massa sudah dinilai representatif asal media massa tersebut bisa menyampaikan isinya secarakomprehensif.

Di sisi lain, analisis isi tidak perlu menggunakan responden sehingga dapat menghemat biaya dan waktu, narasumber terkadang diperlukan untuk memperkuat pendapat semata. Panduan analisis isi ini adalah pada Coding Sheets.
Data yang dapat dipakai dalam analisis isi beraneka ragam asalkan terdapat data tertulis tetapi yang utama media massa
2.     Analisis Framing
·         Pengertian
Frame itu sendiri berarti jendela atau bingkai, framing memiliki arti membingkai, maksudnya pesan komunikasi khususnya media massa pasti memiliki bingkai. Dalam penjelasannya, kita sering kali melihat atau bahkan membaca berita yang sama, tetapi berita yang dibahas berasal dari jendela atau sudut pandang yang berbeda.
Melalui bingkai atau jendela inilah media massa membahas berita dengan menentukan bagaimana peristiwa dilihat, siapa narasumber yang diwawancarai, bagian mana dari peristiwa yang akan ditonjolkan dan bagian mana pula dari peristiwa itu yang bisa diberitakan dalam porsi kecil.
Maka, analisis framing adalah salah satu metode penelitian dalam media massa yang menekankan pada pemilihan fakta dan penonjolan fakta (penyajian fakta dan narasumber). Dalam hal ini, tentu berkaitan erat dengan cara melihat untuk bercerita suatu media terhadap suatu peristiwa.
·         Asumsi Dasar
Bahwa individu selalu bertindak atau mengambil keputusan secara sadar, rasional, dan intensional. Individu selalu menyertakan pengalaman hidup, wawasan sosial, dan kecenderungan psikologisnya dalam menginterprestasi pesan yang ia terima.
·         Ragam Analisis beserta Tokoh
Beterson
Gagasan mengenai framing, pertama kali dilontarkan oleh Beterson pada tahun 1955. Mulanya, frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana, serta yang menyediakan ktegori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas. Namun, kemudian pengertian framing berkembang yaitu ditafsirkan untuk menggambarkan proses penseleksian dan penyorotan aspek-aspek khusus sebuah realita oleh media. Dalam ranah studi komunikasi, analisis framing mewakili tradisi yang mengedepankan pendekatan atau perspektif multidisipliner untuk menganalisis fenomena atau aktivitas komunikasi.
Tesis utamadari Berger adalah manusia dan masyarakat adalah produk yang dialektis, dinamis, dan plural secara terus-menerus. Bagi Berger, realitas itu tidak dibentuk secara ilmiah tidak juga sesuatu yang diturunkan Tuhan, tetapi ia dibentuk dan direkonstruksi.
Goffman
Konsep ini kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Goffman 1974, dengan mengandaikan frame sebagai kepingan-kepingan perilaku (strips of behaviour) yang membimbing individu dalam membaca realitas.
G.J Aditjoro
G.J Aditjoro mendefiniskan framing sebagai metode penyandian realitas dimana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan secara halus, dengan memberikan sorotan terhadap aspek-aspek tertentu saja, dengan menggunakan istilah-istilah yang punya konotasi tertentu, dan dengan bantuan foto, karikatur, dan alat ilustrasi lainnya.
Gamson dan Modigliani
Menurut Gamson dan Modigliani, frame adalah cara bercerita atau gugusan ide-ide yang terorganisir sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan objek suatu wacana
Peter L. Beger dan Thomas Luckman
Konsep mengenai konstruksionisme diperkenalkan oleh sosiolog interpretatif, Peter L. Beger bersama Thomas Luckman, yang banyak menulis karya dan menghasilkan tesis mengenai konstruksi sosial dan realitas. Berita dalam pandangan konstruksi sosial, bukan merupakan peristiwa atau fakta dalam arti yang riil. Disini realitas bukan hanya dioper begitu saja sebagai berita. Ia adalah produk interaksi antara wartawan dengan fakta.
Robert Entman
Robert Entman adalah salah seorang ahli yang meletakkan dasar-dasar bagi analisis framing untuk studi isi media. Menurutnya, analisis framing adalah pengorganisasian informasi dengan cara tertentu yang khas, sehingga isu tertentu mendapatkan alokasi lebih besar dari pada yang lain.
Robert Entman melihat perangkat framing dalam dua dimensi besar, yakni:
a. Seleksi isu
Menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan isu-isu yang lain. Aspek ini berhubungan dengan pemilihan fakta, misalnya aspek mana yang ingin ditampilkan? Karena tidak semua aspek dari isu bisa ditampilkan.
b. Penonjolan isu
Proses membuat informasi menjadi lebih berarti, bermakna, lebih menarik, tau bahkan lebih diingat oleh khalayak. Aspek ini berhubungan dengan penulisan fakta. Saat aspek yang ingin ditampilkan sudah dipilih, lalu bagaimana aspek tersebut ditulis? Tentu hal ini berkaitan dengan pemakaian kata, kalimat, gambar , dan citra tertentu yang ingin ditampilkan kepada khalayak.
3.     Analisis Semiotik
·         Pengertian
Analisis semiotika adalah metode penelitian untuk menafsirkan makna dari suatu pesan komunikasi baik yang tersirat (tertulis) maupun yang tersurat (tidak tertulis/teruap). Makna yang dimaksud mulai dari parsial hingga makna komprehensif. Sehingga dapat diketahui motif komunikasi dari komunikatornya.
Metode semiotika dikembangkan untuk menafsirkan simbol komunikasi sehingga dapat diketahui bagaimana komunikator mengkontruksi pesan untuk maksud-maksud tertentu.
Melalui analisis semiotika dapat dikupas  tanda dan makna yang diterapkan pada sebuah naskah pidato, iklan, novel, film, dan naskah lainnya. Hasil analisis rangkaian tanda itu akan dapat menggambarkan konsep pemikiran yang hendak disampaikan oleh komunikator, dan rangkaian tanda yang terinterpretasikan menjadi suatu jawaban atas pertanyaan nilai-nilai ideologi dan kultural yang berada di balik sebuah naskah.
·         Asumsi Dasar
Bila segala sesuatu yang dalam terminologi semiotika disebut sebagai tanda (sign), semata alat untuk berdusta, maka setiap tanda akan selalu mengandung muatan dusta; setiap makna (meaning) adalah dusta; setiap pengguna tanda adalah para pendusta; setiap proses pertandaan (signification) adalah kedustaan
·         Ragam Analisis beserta Tokoh
Ferdinand de Saussure
Pada mulanya semiotika dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure dan Roland Barthes serta kemudian banyak dikembangkan Jean Baudrillard, salah seorang pemikir posmoderisme yang terkenal.
Eco
Menurut Eco, semiotik sebagai “ilmu tanda” (sign) dan segala yang berhubungan dengannya cara berfungsinya, hubungannya dengan kata-kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya.
Zoest
Menurut Zoest (1992), semiotika adalah studi tentang tanda dan segala yang berhungan dengannya: cara berfungsinya, hubunganya dengan tanda-tanda lain, pengirimannya, dan penerimaanya oleh mereka yang mempergnakannya.
Scholes
Semiotika, yang biasanya didefinisikan sebagai pengkajian tanda-tanda (the study of signs), pada dasarnya merupakan sebuah studi atas kode-kode, yaitu sistem apapun yang memungkinkan kita memandang entitas-entitas tertentu sebagai tanda-tanda atau sebagai sesuatu yang bermakna ( Scholes, 1982: ix dalam Kris Budiman, 2011: 3)
Ferdinand de Saussure
Bagi Ferdinand de Saussure (Kris Budiman, 2011: 3) menuturkan bahwa semiologi adalah sebuah ilmu umum tentang tanda, “suatu ilmu yang mengkaji kehidupan tanda-tanda di dalam masyarakat”.
Charles S. Pierce
Tanda-tanda dalam masyarakat yang telah disepakati sebenarnya hasil dari pemikiran Logika seperti yang di ungkapkan oleh Charles S. Pierce (Kris Budiman 2011: 3) bahwa semiotika tidak lain daripada sebuah nama lain bagi logika, yakni “doktrin formal tentang tanda-tanda”.
               
John A. Walker
Menurut John A. Walker semiotika adalah “ilmu yang mengkaji tentang tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Definisi tersebut menjelaskan relasi yang tidak dapat dipisahkan antara sistem tanda dan penerapannya di dalam masyarakat. Oleh karena tanda itu selalu ditempa di dalam kehidupan sosial dan budaya, maka jelas keberadaan semiotika sangat sentral di dalam cultural studies. Tanda tidak berada di ruang kosong, tetapi hanya bisa eksis bila ada komunitas bahasa yang menggunakannya. Budaya, dalam hal ini, dapat dilihat sebagai bangunan yang dibangun oleh kombinasi tanda-tanda, berdasarkan aturan tertentu (code), untuk menghasilkan makna.
Pierce
Pierce mendefinisikan tanda sebagai segala sesatu yang mampu mewakili sesuatu yang lain. Definisi tanda menurut Pierce dibangun diatas pendekatan triadic. Tanda terbentuk atas tiga pemungsi tanda yaitu Representatement, Semiotic Object, dan Interpretant. Representatement adalah object concret yang dapat diamati oleh panca indra. Semiotic Object adalah abstraksi atau concept seseorng mengeni suatu objek. Interpretant adalah pemahaman seseorang mangenai hubungan antara Representatemen dan Semiotic Objek.
Saussure
Teori tanda menurut Saussure (1857-1913) yang ia sebut semiologi. Konsep Saussure disebut diadik karena teorinya dibangnoleh dua pemungsi tanda yaitu signifier (penanda) dan signified (petanda). Makna dalam system tanda merupakan salah sat komponem yang bersifat abstrak.pemaknaan selalu didasarkan pada paradigma, pemikiran, pengetahan, interest, atau kltur yang dimiliki oleh interpreter. Setiap tanda selalu mengandung sebuah makna.
Konsep tentang makna menurut Pierce, yaitu: (1) konsep atau pengetahuan yang kita miliki tentang suatu objek tidak bersifat absolute.konsep hanya bersifat pemikiran (Merrel in Cobey, 2001, Hal, 28); (2) sut objek mungkin tetap tak mngkin berubah, sementara makna kata itu mungkin berubah bagi kita kalau ada perubahan pengetahuan tentang objek itu, atau perubahan perasaan kita terhadap objek itu (Ullmann, 1977; Hal.67); (3) makna tidak hanya berada pada tataran psikologis, tapi berada pula pada tataran social komunikasi yang melibatkan factor konstekstual.
Dalam kajian teori tanda, makna kontekstal menganggap makna satu tanda sebagai fungsi hubungannya dengan tanda lain dalam konteksnya ( Noth, 1995;Hal. 100).berkaitan dengan makna pragmatic, konteks penggunaan suatu kata atau kalimat ditentukan oleh factor sitasional separti the role of participants, discourse, time, dan intention.
4.     Analisis Wacana
A. Pengertian Wacana
Wacana dalam bahasa inggris disebut discourse. Secara bahasa, wacana berasal dari bahasa Sansekerta “wac/wak/vak” yang artinya “berkata, berucap” kemudian kata tersebut mengalami perubahan menjadi wacana. Kata ‘ana’ yang berada di belakang adalah bentuk sufiks (akhiran) yang bermakna “membendakan”. Dengan demikian, kata wacana dapat diartikan sebagai perkataaan atau tuturan.
Menurut kamus bahasa kontemporer, kata wacana itu mempunyai tiga arti. Pertama, percakapan; ucapan; tuturan. Kedua, keseluruhan cakapan yang merupakan satu kesatuan. Ketiga, satuan bahasa terbesar yang realisasinya merupakan bentuk karangan yang utuh.
Wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap diatas kalimat dan satuan gramatikal yang tertinggi dalam hierarki gramatikal. Sebagai satuan bahasa yang terlengkap, wacana mempunyai konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang dapat dipahami oleh pembaca dan pendengar. Sebagai satuan gramatikal yang tertinggi, wacana dibentuk dari kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal dan persyaratan kewacanaan lainnnya. Persyaratan gramatikal dalam wacana ialah adanya wacana harus kohesif dan koherens. Kohesif artinya terdapat keserasian hubungan unsur-unsur dalam wacana. Sedangkan koheren artinya wacana tersebut terpadu sehingga mengandung pengertian yang apik dan benar. Wacana yang koherens tetapi tidak kohesif sepeti contoh:
Andi dan budi pergi ke hitec-mall, dia ingin membeli laptop.
Contoh tersebut tidak tidak kohesif karena kata dia tidak jelas mengacu kepada siapa, kepada Andi atau Budi, atau kepada keduanya. Jadi dapat disimpulkan bahwa wacana yang baik adalah wacana yang kohesif dan koherens.
Selain wacana sebagai satuan bahasa terlengkap diatas kalimat dan satuan gramatikal tertinggi dalam hierarki gramatikal, masih banyak lagi pengertian lain tentang wacana. Lubis mendefinisikan bahwa wacana adalah kumpulan pernyataan-pernyataan yang ditulis, atau diucapkan, atau dikomunikasikan dengan menggunakan tanda-tanda. Sementara White mengartikan wacana adalah dasar untuk memutuskan apa yang akan ditetapkan sebagai suatu fakta dalam masalah-masalah yang akan dibahas dan dasar untuk menentukan apa yang sesuai untuk memahami fakta-fakta sebelum ditetapkan, dimana White dalam hal ini lebih melihat wacana sebagai sebab daripada sebagai akibat.
Analisis wacana adalah ilmu yang baru muncul beberapa puluh tahun belakangan ini, sebelumnya aliran-aliran linguistik hanya membatasi penganalisaannya pada sosial kalimat saja, namun belakangan ini barulah para ahli bahasa memalingkan perhatiannya pada penganalisaan wacana.
Analisis wacana adalah studi tentang struktur pesan dalam suatu komunikasi atau telaah mengenai aneka fungsi (pragmatik) bahasa. Melalui analisis wacana, kita tidak hanya mengetahui isi teks yang terdapat pada suatu wacana, tetapi juga mengetahui pesan yang ingin disampaikan, mengapa harus disampaikan, dan bagaimana pesan-pesan itu tersusun, dan dipahami. Analisis Wacana akan memungkinkan untuk memperlihatkan motivasi yang tersembunyi di belakang sebuah teks atau di belakang pilihan metode penelitian tertentu untuk menafsirkan teks.
Objek kajian atau penelitian analisis wacana pada umumnya berpusat pada bahasa yang digunakan sehari-hari, baik yang berupa teks maupun lisan. Jadi objek kajian atau penelitian analisis wacana adalah unit bahasa diatas kalimat atau ujaran yang memiliki kesatuan dan konteks yang eksis dikehidupan sehari-hari, misalnya naskah pidato, rekaman percakapan yang telah dinaskahkan, percakapan langsung, catatan rapat, dan sebagainya, dan pembahasan wacana pada dasarnya merupakan pembahasan terhadap hubungan antara konteks-konteks yang terdapat dalam teks. Pembahasan itu bertujuan menjelaskan hubungan antara kalimat atau antara ujaran (utterances) yang membentuk wacana.

sumber :
Analisis Teks Media (Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing) / Drs. Alex Sobur, M.Si / Penerbit : Rosda


Ilusi Sosial

Taukah kalian apa itu ilusi sosial ?
Jika ilusi sering terjadi pada orang yang ketakutan, sedikit berbeda dengan ilusi sosial , Ilusi sosial merupakan ilusi yang terjadi pada presepsi sosial , ilusi sosial ini sering sekali terjadi di sekeliling kita, dari mulai hal kecil, besar, bahkan dari hal positif sampai ke hal yang negatif. Ilusi sosial ini biasanya antar satu individu dengan individu lainnya sama. Yang termasuk ilusi sosial adalah prasangka, stereotip, rasialisme, fanatisme, favoritisme, dan sebagainya. Namun, kali ini kita akan membahas tentang Stereotip, Fanatisme, Rasionalisme, dan Hallo Effect.
So, simak baik-baik yaa..

1. Stereotip
       Secara gampangannya, stereotip itu merupakan cara pandang kita dalam menjugde suatu individu/kelompok lain. Biasanya sih semua orang mempunyai pemikiran yang sama terhadap individu/ kelompok tersebut. Stereotip ini biasanya berkaitan dengan hal positif atau hal negatif, stereotip bisa benar juga bisa salah.
       Contohnya sih sebenernya banyak, but aku ambil contoh yang sesimple mungkin aja yaa..
jadi giniii, mmm.. Kalian pernah liat polisi bergerombol enggak?Apa sih yang pertaman kali kalain piikirkan? Apalagi buat kalian anak unyu-unyu jaman sekarang, bisa aku tebak pasti pikiran pertama kalian cegatan kan? eits what the mean of cegatan? maksudku tilang bro..hehe. Nah, setelah kalian mikir kalo itu tilang, pasti yang kalian pikir selanjutnya uang?
jadi, polisi = tilang = uang , dapat disimpulkan bahwa kita itu selalu menjudge atau mempunyai cara pandang bahwa polisi itu bisa kita sogok dengan uang, padahaaaal gak selalu dan gak semua polisi seperti itu. 
      Nah, cara pandang kita itulah yang disebut dengan stereotip itu.Sikap Stereotip ini banyak yang tidak menyadarinya. Tapi alangkah baiknya kita hindari sifat mejudge orang yang seperti ini, bisa saja dapat melukai perasaan orang lain, cieelah meloww..
    
2. Fanatisme
      I think you have know with fanatisme, fanatisme itu dari kata fanatik. Yup, fanatisme merupakan suatu cara pandang dengan sesuatu yang positif maupun negatif tanpa suatu dasar namun sangat berlebihan sih kataku hingga banyak yang susah diluruskan . Fanatisme ini biasanya banyak dimilik oleh orang yang mempunyai ego tinggi.        Contohnya, boleh yaa aku ceritain sedikit tentang slaah seorang temanku yang mempunyai cara pandang yang seperti ini  (Bukan ghibah loo yaa, cuman contoh). Dia ini salah satu suporter sepak bola yang sangat fanatisme.Apapun barang yang berhubungan dengan club idola nya selalu dibeli. Namun, yang terlalu kurang ajar, eits maksudku Gak Wajar Dia ini merupakan ketua pemuda in my village, dan saat itu ada sebuah rapat yang sangat urgent dalam organisasi kami tapi disisi lain club idolanya juga main di Malang. Terus taukah kamu apa yang dia pilih dalam kedua pilihan yang menurut orang normal pasti jelas pentingnya rapatnya buka? Tapi inilah realita orang fanatisme, dia malah lebih memilih club idola nya main daripada rapat yang jelas-jelas sebuah tanggung jawabnya       Terkadang atau lebih sering, orang fanatisme ini banyak kehilangan akal rasionalnya. Sehingga sangat susah untuk menyadarkan mereka  pada suatu kenyataan yang lebih rasional. 

3. Rasialisme
       Nah, Rasionalisme ini merupakan cara pandang seseorang dalam membeda-bedakan sebuah ras/suku.
       Contohnya, dulu waktu SD ada teman sekelas saya yg berasal dari Irian. Karena dari asal dan suku yg berbeda dan terlalu minoritas, ada teman saya yg selalu mengucilkan mereka. 

4. Hallo Effect
       Hallo effect ini merupakan sikap menyimpulkan karakter/sifat sesorang yang baru saja dilihat atau ditemuinya. Kesimpulan yg diambil ini biasanya salah tapi bisa juga benar.
      Contohnya, saya pernah bertemu dengan bapak-bapak dengan kumis tebal dan wajah yg suram. Saya pikir orangnya galak dan menakutkan. Eee.. Ternyata setelah ngobrol, orang yg saya kira galak tadi itu ndagel alias gokil.. 😂
      
 

Teori-Teori Komunikator

      Teori-teori komunikator ini mempelajari tentang bagaimanindividu bertindak sebagai komunikator dalam proses komunikasi. Terdapat poin-poin dalam teori komunikator :
-Traits : karakter atau sifat yang mempengaruhi perilaku komunikasi.
-Cognition and information processing : proses pengelolaan informasi dan kerangka piker sesorang yang akan menentukan bagaimana cara piker, sikap dan perilaku individu
-Self : bagaimana setiap aspek dari individu (missal konsep diri, presepsi, penampilan diri)  membentuk proses interaksi individu dalam lingkungan sosialnya.
-Identity : Bagaimana identitas individu dibentuk dan dikonstruksikan oleh beragam factor

1. Teori  Traits

Teori ini berasal dari tradisi psikologi social yang memandang karakter atau sidat individu sebagai factor yang penting dalam menentukan perilaku komunikasinya.
Beberapa traits yang menonjol disini yaitu :
Conversational narcissism :
Kecenderungan cinta pada diri sendiri, menonjolkan atau membanggakan diri, suka menceritakan diri sendiri
Cenderung mengontrol dan mendominasi arus percakapan
Tidak responsif terhadap orang lain dan tidak peka terhadap orang yang diajak berkomunikasi

Argumentativeness ;
- Kecenderungan untuk terlibat dalam topik-topik kontroversial, memiliki sudut pandang
tersendiri dengan upaya membuktikan pendapat yang bertentangan sebagai pendapat yang salah
Argumentatif dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif ketika melibatkan agresivitas dan kasar.
Argumentatif dapat meningkatkan kredibilitas, mengarahkan orang lain melihat dari sudut pandang yang berbeda, meningkatkan pembelajaran dan ketrampilan komunikasi

Social and Communicative Anxiety:
Kecemasan berkomunikasi terkait dengan penghindaran sosial, kecemasan secara sosial, kecemasan berinteraksi dan sifat pemalu.
Kecemasan berkomunikasi berdampak secara :
Fisik : jantung berdebar, pipi memerah
Perilaku : penghindaran, proteksi diri
Kognitif : fokus pada diri sendiri, memiliki pikiran negatif

Trait – factor models
Model ini terdiri atas seperangkat sifat-sifat umum yang dapat menjelaskan sifat-sifat lain dan perbedaan-perbedaan individu. Terdiri atas 5 hal :
Neuroticism, kecenderungan merasakan emosi yang negatif
Extraversion,kecenderungan suka berkelompok, asertif dan berpikir optimis
Openness, kecenderungan reflektif, imajinatif, pemikir independen
Agreeablenes, simpati dan suka membantu orang lain dan menghindar antagonisme
Conscientiousness, disiplin diri, well organized

2. Attribution Theory

         Terkait dengan cara-cara orang mencari penyebab perilaku seseorang
Beberapa penyebab perilaku :
Faktor situasional atau pengaruh lingkungan
Efek personal
Ability, kemampuan melakukan sesuatu
Effort, upaya untuk melakukan sesuatu
Desire, keinginan untuk melakukan sesuatu
Perasaan suka
Belonging, perasaan memiliki
Obligation, tanggung jawab untuk melakukan sesuatu
Permission
Perilaku seseorang dapat disebabkan oleh satu atau berbagai factor. Secara alami, kita akan menilai faktor penyebab perilaku seseorang dengan melihat konteks atau situasi dimana perilaku itu terjadi . Disamping itu juga berdasar persepsi . Orang sering bias dan tidak logis dalam menarik kesimpulan penyebab perilaku seseorang  karena hanya didasarkan pada tanda-tanda yang nampak dan faktor emosional. Hal ini dapat menyebabkan perilaku komunikasi yang tidak tepat dikarenakan ketidakmampuan kita mendeteksi faktor penyebab di balik perilaku individu lain

3. Theory of beliefs,attitudes and values

        Dalam teori ini Setiap orang memiliki sistem keyakinan, sikap dan nilai-nilai  yang terorganisir dan mengarahkan pada perilaku tertentu.
Belief merupakan keyakinan-keyakinan kita mengenai diri kita dan kaitannya dengan segala sesuatu  yang ada di dunia ini
Attitudes merupakan kecenderungan sikap seseorang yang mengarah pada perilaku tertentu. Sikap bisa terhadap objek tertentu atau situasi tertentu
Nilai merupakan keyakinan yang lebih bersifat spesifik dan menjadi sentral serta bertindak sebagai pedoman hidup
Disamping itu terdapat pula konsep diri (self concept), bagaimana penilaian kita tentang diri kita sendiri, yang turut menentukan perilaku kita dalam berkomunikasi

4. Teori Presentasi Diri

         Setiap seting kehidupan dimetaforakan dengan panggung dimana setiap orang menjadi aktor yang menampilkan performance tertentu untuk memberikan kesan pada orang lain. Oleh karenanya setiap orang perlu memahami setiap event yang dihadapinya. Analisis frame atau kerangka/seting diperlukan supaya setiap individu dapat mengatur dan memahami perilaku-perilaku tertentu dalam setiap situasi yang ada. Disamping itu agar kita dapat memaknai peristiwa mana yang penting dan bermakna dan mana yang kurang penting agar dapat terfokus pada bagian-bagian kehidupan yang lebih penting.
Catatan :
Setiap individu sebagai komunikator akan memiliki seperangkat karakter tertentu dan sumberdaya yang berbeda-beda dalam setiap situasi yang dihadapi.
Pemahaman tentang seorang komunikator tidak cukup dari sisi karakter dan sistem kognitifnya semata namun juga ditentukan oleh faktor sosial,budaya, nilai-nilai yang dibentuk lingkungannya.
Interpretasi dan tindakan-tindakan komunikator dapat berubah melalui interaksinya dengan orang lain